Kencan buta
"Tak ada satupun kata terucap diantara mereka…" Hanya duduk diam menekuri cangkir cangkir kopi mereka. Sesekali pandangannya menjelajah ruangan kedai kopi itu, ketika gelak tawa dari pengunjung lain mencuri perhatiannya. Senyum sayu akan terbentuk di bibirnya untuk sesaat, dan kembali dia akan menekuri cangkir kopinya.
Beberapa minggu yang lalu dia berkenalan dengan pria itu, lewat jasa seorang kawan. "Ran, mau aku kenalin sama temen gak?" ujar Tiar ketika mereka sedang menikmati minggu sore di Kemang. "Ganteng , Ran. Dah gitu kerjaannya bagus, orangnya baik." " Yakin lo yar? Kalo ganteng ngapain masih jomblo? Pasti elo ngasal deh" jawabnya curiga. "Gaban (*engga banget*) emang keren kok cuma picky aja kali, kalo gua gak punya Pijar, gua juga mau deh," Bela Tiar lagi. Akhirnya pada akhir percakapan sore itu dia menurut usul Tiar untuk berkenalan degan pria itu.
Selang beberapa minggu, beberapa puluh sms, dan beberapa percakapan panjang di telpon, dia dan pria itu memutuskan untuk bertemu. Hari Sabtu dipilih sebagai hari pertemuan mereka. Sore hari di kedai kopi daerah selatan Jakarta menjadi waktu yang ditentukan. Layaknya seorang gadis hendak bertemu calon pangerannya, dia menghabiskan siang hari di salon, memanjakan dan mempercantik diri. Dikenakannya atasan chiffon cantik berwarna merah muda kelabu dan jeans pucat.
Dia datang 10 menit lebih awal, memesan minum, duduk, menaruh handphone di meja, dan mulai membaca majalah yang disediakan. Tidak lama setelah cangkir kopinya diantar, handphonenya berdering menandakan kedangan pria itu. Ketika matanya bersirobok dengan mata pria itu, waktu seakan berhenti. Celoteh ceria dari penjuru kedai tidak terdengar, bahkan alunan musik jazz dari speaker pun tidak terdengar.
Dia sudah pernah bertemu dengan pria itu. Beberapa tahun yang lalu, ketika dia masih tinggal bersama adik lelakinya. Malam yang dia tidak pernah lupakan seumur hidup. Malam itu dia pulang tugas sehari lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Sisa sisa aroma masakan menyambutnya ketika dia membuka pintu. Dia menuju ruang duduk, dan di situlah dia memergoki adiknya sedang berciuman dengan pria itu.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home