Fallen Angels
Hari ini gua dan Fiona berpetualang ke sebuah kantor yang bernama Departemen Tenaga Kerja dan Tranmigrasi, atau gaulnya nakertrans. Ceritanya Fiona pengen berbakti kepada nusa dan bangsa dan lebih dari itu dia pengen banget mecat mecatin pegawai pegawai negri yang udah membuat hidupnya susah karena birokrasi yang harus dilicinkan dengan uang selalu. Jadilah kita mengorbankan jatah bangun siang Sabtu kita untuk pergi ke nakertrans untuk menyampaikan lamaran kepada bapak mentri.Daaan waktu baru sampe pun kita udah ciut karena antriannya udah kaya ular naga lipet tiga, dan ketika kita udah mau ngantri, kita baru tahu kalau harus punya formulir pendaftaran, trus kita setelah bertanya sama sesama calon pegawai ngeri , pergilah kita ke tempat yang ditunjuk, notabene toko fotokopian dan kita bayar 1000 perak buat formulirnya. Lalu dengan hati lega kita balik lagi ke antrian, sembari mengengam dua helai kertas. Selang lumayan lama Fiona sadar kalau dia engga punya amplop putih, jadilah gua balik lagi ke tukang fotokopian yang tadi. Sewaktu gua desek desekan di toko fotokopi datanglah bapak bapak dari panitia pendaftaran menanyakan apa yang sedang diperjual belikan. Ternyata olala… formulir yang tadi kita beli ada lah formulir palsu, dan yang asli lengkap dengan stempel harus di ambil di depan. Dengan panik gua ikut ikutan yang lain lari lari ke depan, dan ternyata yang dimaksud di depan adalah suatu tenda dengan antrian meliuk liuk bak penari India. Gua lalu bertanya sama seorang Siti Khadijah asal Purwokerto, apakah bener ini antrian untuk ambil formulir. Dia bilang “ Bener kok mbak “, dan ohmigod antriannya… puanjang sepanjang daftar dosa gua. Untung aja si Siti Khadijah Sarjana Teknik Sipil Purwokerto ini berhati malaikat dan menawari gua untuk mengantri di depan dia. Okeh mungkin gua berlebih, cuman di tengah kepanikan gua dan kekeselan gua sama tukang fotokopi jahat itu, bagi gua Siti Khadijah gadis Purwokerto itu adalah manusia paling baik hati yang gua temui hari itu. Berkat kebaikan hatinya gua hanya perlu mengantri kurang dari 15 menit, dan di tengah kepanikan gua, gua lupa kalau si Fiona tetap belum punya amplop putih. Nah di sinilah gua ketemu malaikat baik hati kedua, namanya ….Hakim…. Bukannya gua tidak perhatian tapi nama si malaikat kedua ini emang bener susah banget di baca dan di inget, jadi gua hanya inget nama tengahnya yaitu ya Hakim. Sewaktu gua menulis nama Fiona di daftar hadir gua mulai panik lagi soal amplop putih, dan tau tau si Hakim yang namanya susah dibaca itu menyelipkan selembar amplop putih ke tangan gua. Olala senangnya dalam waktu 10 menit gua ketemu dua malaikat baik hati. Akhirnya gua, berserta malaikat malaikat gua itu ditambah beberapa teman teman cpns menuju ke antrian ke dua di mana Fiona sudah manis menunggu, dan tentunya seumua dipersilakan mengantri di depan Fiona. Dengan hati gembira dan waktu tidak terlalu lama kita semua berhasil masuk ke ruang tunggu yang full AC.
Setelah beberapa saat mempererat pergaulan dengan teman teman baru kita sembari lesehan di pendopo yang full AC tapi bau pesing itu, Fiona baru sadar bahwa dia melamar posisi yang salah, dan itu berarti dia membuat surat lamaran yang salah dan map berwarna salah. Ohmigod…ohmigod… surat lamaran sih gampang bisa ditulis lagi dengan sekejam mata tetapi map warna kuning??? Akhirnya setelah memarahi Fiona, gua suru dia diam di situ nunggu dipanggil sementara gua keluar mencari map kuning. Kembalilah gua ke tukang fotokopi penipu itu, tetapi ternyata map kuningnya sudah habis. Dengan sigap gua memutuskan untuk mencari map kuning di wartel seberang jalan. Karena gerbangnya di kunci, tanpa pikir panjang gua langsung meloncat pagar. Dan OHMIGOD, ternyata dibelakang pagar ada sebuah kali bau siap menelan gua. Untung aja sebagai gadis yang terlahir dengan shio Monyet gua cukup sigap untuk pegangan ke pager dan meniti pelan pelan. Kalo engga coba bayangkan nasib si map kuning yang pasti gua udah gak pikirin lagi kalo lagi terkapar di dasar kali bau.
Bak seorang atlet berjalan dengan medalinya, gua pun masuk ke pendopo full AC dan bau pesing itu sembari mengengam selembar map kuning dengan hati bangga dan muka berpeluh keringat. Akhirnya gua bisa duduk menikmati semilir hembusan AC dengan tenang sembari menunggu panggilan buat Fiona. Ketika kita lagi sibuk ngobrol tiba tiba gua mencium bau gorengan, dan refleks gua berujar denga lantang “Eh ada gorengan !!” Ternyata si empunya gorengan sedang memarkirkan pantatnya ke sebelah gua persis, dan mendengar seruan gua dia serta merta menawarkan gorengannya. Wahahha… malu juga sih sebetulnya ketauan rakus, tapi dia adalah malaikat ketiga yang gua ketemui hari ini. Karena dia tulus banget nawarin gorengannya, yang dia terus mendesak gua untuk makan dan tentu saja dengan senang hati akhirnya perut gua menerima sepotong combro, dan perut Fiona menerima sepotong bakwan. Walaupun itu cuman gorengan yang harganya cuman 300 perak, lagi lagi gua terharu banget bahwa di tengah tengah segala kepenatan dan kecapean ada orang yang gua gak kenal sama sekali dengan baik hati memberi gua gorengan yang emang gua lagi pingin. Jadi ya begitulah kisah petualangan gua dan Fiona di nakertrans, di mana kita bertemu malaikat malaikat baik hati,dan mengalami hal hal lucu seperti di tipu tukang fotokopi dan hampir terjebur kali bau. Oh ya sekalian buat Fiona, Fi walaupun bener elu utang budi berat sama gua, inget ya dengan perjuangan kita elu minimal harus jadi dirjen, ato at least dapet Fullbright, gua juga mau berterima kasih siy Fi karena walaupun cape it was a day to remember, and probably one of my luckiest since I get to meet 3 fallen angels at one day.