Missy&Cliff

A tribute to my lovely hen and her handsome rooster. The real Missy and Cliff

My Photo
Name: Monika Budirahayu
Location: Indonesia

Monday, January 31, 2005

Wish

if i have one wish,
it'll be to soar high,
roam as free as a bird,
not an ounce of worry in my vein
nor a minute spent in thoughts
just me in my own little bubble world

Wednesday, January 26, 2005

Puisi

Tutup jendela jendela itu
Biarkan aku sendirian di dalam
Jangan tanya ada apa denganku
Jangan pula mengasiani diriku

Ketika kegalauan melanda
Dan ragaku melemah tak akan kucari
Tambatan laksana ksatria penyelamat
Pelindung gagah berani

Rumahku telah tersegel
Dan aku sendirian di dalamnya
Seperti yang kuinginkan
Kembali seperti saat aku datang

puisi norak hasil browsing

Tuesday, January 25, 2005

Kring..

Kring..Kring..

G: Halo, Monik.

SH: Halo juga.

G: Ini, siapa ya?

SH: Ini suara hati monika

G: Ooo, suara hati to, ada perlu apa yak?

SH: Engga papa, cuma kangen aja. Udah lama engga ngobrol

G: Iyah, abisan gua lagi sibuk sih, jadi engga sempet.

SH: Memang sih, kalo sibuk jadi suka lupa gua. Padahal mestinya elu harus rajin rajin
konsultasi sama gua.

G: Eh, gua lagi banyak kerjaan. Ntar aja yah ngobrolnya

Klik...

Monday, January 24, 2005

Sleeping Pills

I’ve come early to office purposely to share something that might be useful for you all. My uncle was admitted to hospital a few days ago and diagnosed poisoned. The said poison was from the sleeping pillls/ anti depressants he had been taking and prescribed by his physiciatrist. By the way bear in mind he’s a perfectly jolly fellow, but unfortunately burderned with a stressful job. Within these few days after the pills had been stopped his condition grew much much worse. Yesterday he got so bad that he had to be flown to General Hospital with a full medical staff. All this happened because he took sleeping pills, and he’s not even addicted to it actually, he just can’t take it. Now I know that those pills do look harmless, and actually I am not going to ask you not to take it. But please, the next time you cannot sleep and reaching for a mogadon, or any of those shit, try to think of your loved ones and ask yourself is it worth it?

Friday, January 14, 2005

Pathetic

Jam sudah menunjukkan pukul 10.23 dan gua masih berkutat di cubicle bapuk di kantor. Padahal tadi sore gua udah pulang kantor, udah bercengkrama, udah makan, udah main sama nyamuk nyamuk di teras. Cuman selang beberapa jam gua mendapat telpon yang memaksa gua kembali ke kubangan stress ini. Sebetulnya gak penting banget cerita gua ini. Jangan pikir kerjaan gua berat, sebetulnya kerjaan gua lumayan santai buktinya tadi siang gua bisa ngintip ebay (ps: tolong jangan diadukan ke bos gua, just between us yak). Enihweih cuman di tempat sesepi kantor gua kala bulan becanda, gua jadi berasa mela (baca melankonis). Apalagi sembari mendengar lagu lagu cinta punya temen gua.
Suasana itu bahaya banget yah. Buktinya hanya dengan kesunyian kantor, dan alunan lagu lagu romantis gua bisa jadi terbawa suasana. Jadi BETEHHHH, seolah olah kaya lagi sedih. Mengakibatkan gua termenung padahal engga ada yang dipikirin.
Whuaaa PATHETIC PATHETIC PATHETIC PATHETIC.
I swear i can hate myself over and over again

Thursday, January 13, 2005

Percakapan LunchTime

Sesuai dengan advis temen gua, gua akan mendokumentasikan percakapan makan siang hari ini. Topik gak penting hari ini adalah geng geeky dan geng pengencet. Percakapan ini bermula waktu kita di kantor mau berangkat ke kantin, dam temen gua masih sok sibuk di meja. Karena kalo lambat dikit kantin udha bakalan rame, kita jadi ribut memburu buru temen gua ini yang sebut saja Akun. snippet percakapannya seperti sebagai berikut

Dell:" kun, ayuk makan, tar kantornya rame"
Akun: "nanggung nih, kalian duluan deh" (sembari melototin monitor)
Gua: "Kun, medingan cepetan deh jangan sok rajin"
(efek background ketawa)
Akun: " Apaan sih"
Gua: " Iyah kun, elu kalo di sekolah pasti tipe yang dimusuhin satu kelas, gara gara kerajinan. Pasti kalo yang laen lagi jajan keluar maen, elu di kelas baca catetan"
Dell: "Haha, iya deh pasti elu yang geeky abis gitu"
Gua: " Iya pasti elu yang anak kesayangan guru gitu"
Akun: " Kalo elu pasti yang tukang tindas"
Gua: "Iya mungkin kalo kantor kita adalah kelas smp, mungkin gua gak bakal temenan sama elo. PAsti yang modelan elo tuh jadi mangsa tindasan."

Oh ya sebelom terjadi ke salah pahaman percakapan di atas tuh purely becanda, dan kalo kenal gua smp gua termasul model yang bukan geeky dan bukan penindas. Mungkin gua adalah yang model loner, yang memiliki kepedulian rendah terhadap lingkungan sekitar. Enihweih setelah percakapan di atas kita jadi membahas mengenai 'kasta' di kalangan anak sekolah.
Dari jaman perjodohan ngetrend sampe jaman perjombloan ngetrend yang namanya perkastaan di lingkungan sekolah tuh pasti ada terus. Geng geng an ini kayanya selalu mempunya format yang mirip. selalu ada geng gaul, geng kutu buku, geng aktivis sekolah(baca: cari muka), geng penyendiri, dan geng aneh. Kalo mau jujur banget pasti elu jatoh di salah satu golongan ini. Kalo di film film biasanya fast foward 10 taun orang orang geng kutu buku pasti jadi miliuner karena punya dot com company, ato menemukan some sick invention, trus orang orang geng gaul jadi orang biasa biasa aja cuman udah punya anak tiga, trus geng aktivis masih berkutat sama kegiatan kegiatan kampus, trus geng penyendiri biasanya trus jadi penulis ato designer, trus kalo geng aneh jadi ya orang aneh.
In real life kayanya pergengan ini langsung melebur ketika elu lulus sekolah. Karena pada nyatanya waktu elu dewasa kepribadian elu akan keluar sehingga prototype prototype gaul ato kutu buku akan susah diapply lagi. Yang ada cuma kita sebagai individu individu independent.
Cwihh serius bener mon, neihweih buat teman teman kantorku baik yang geeky dan yang normal (hihihihihi, becanda koq) thanks for the lunchtalk

Wednesday, January 12, 2005

Nestapa manusia jomblo

Kalo malem minggu tetangga wakuncar
Manusia jomblo ngeceng di mall sama gerombolannya
Berharap ada yang nyantol
Cuman akhirannya pasti yang nyantol baju baru

Kalo kucing seberang jalan berkasih kasihan
Manusia jomblo pasti lagi berdebat masalah perkasihan
Mati matian membela bahwa kasih kasian adalah konsep usang
Dan tidak dia butuhkan

Kalo pembantu belakang lagi nangis nangis berantem sama lakinya
Manusia jomblo pasti lagi sok melankolis
Merasa hidupnya hampa, atau merasa patah hati
Tanpa ada yang matahin hatinya

Kalo Romeo lagi nulis surat buat Juliet
Manusia jomblo pasti lagi nulis
puisi gak penting kaya gini

Tuesday, January 11, 2005

Farewell

I bid thee farewell
Will I not to see you again
I will not regret this parting
For what is a meeting without good bye?

Moving Onnn

Kalo berani pacaran ya harus berani patah hati. Iya gak? Cuman gak semua patah hati itu bisa ter over come dengan sehat. Banyak yang tenggelam dalam duka nestapa (caileeh) ditinggal pacar.Enihweih yang mau gua bahas adalah soal kompensasi. Atau mungkin lebih mengenai bagaimana suatu kejadian bisa merusak diri elu tanpa disadari. Ada temen baik gua, dulu dia pacaran dari SMA sampe dia kuliah. Gua sendiri gak tau gaya pacarannya gimana tapi yag jelas mereka putus gara gara cewenya nyeleweng (pas itu temen gua lagi kuliah di luar negri, jd LD gituh). Temen gua ini sempet stress berat, dan yang lebih parahnya kejadian ini merusak self esteemnya banget. Gua bisa bilang self esteemnya rusak karena perilakunya berubah, dia jadi suka sok mainin cewe padahal sebetulnya kalo dia lagi curhat jujur dia kesepian dan sedih banget berasa kalo cewenya itu adalah 'the one'. Kalo ibu Alelulia bilang ya luka batin. Temen gua itu living proof korban destructive relationship. Nah, cuman kalo ditelusuri oke ya putusnya gak asik banget, dan mungkin selama pacaran pun udah gak sehat. Cuman perangkapnya adalah temen gua tuh gak sadar apa yang dia alami, bahkan sampe waktu udha selese pun. Dan on top of it, yang membuat lebih berlarut larut lagi adalah dia mengkompensasi kelukaannya dia itu dengan perubahan perilaku, yang sebetulnya hanya menambah rusak bukannya menyembuhkan lukanya.
Fast foward fast foward, sekarang temen gua ini sudah berbahagia membina relationship sehat sama seorang cewe for the past one and a half years. Turning pointnya adalah ketika temen gua itu sadar bahwa :
1. A very slight different between she's the one and wanting her to be the one. Dan obviously pacar SMA nya itu bukan 'the one'. Walaupun dia cinta pertama dan mungkin yang dia paling sayang dsb, dsb.
2. Dia sadar bahwa dia terlalu mendramatisir kepatahan hatinya, sehingga jadi lebih berat dari yang sebenarnya dan jadi engga realistis.
3. Dia sadar bahwa dia tenggelam dalam kesakitannya dan mengkompensasi dengan jadi orang nyebelin, bukannya menghadapi dengan biasa.
4. Tentunya karena alasan diatas dia jadi engga bisa move on, dan membuka diri untuk orang lain yang mungkin 'the one'.
Btweh yang di atas ini bukannya gua sok tau loh, temen gua sendiri yang bilang. Enihweih buat temenku maap yah ceritanya di bagi bagi, elu juga boleh bagi cerita gua deh supaya adil..ihihihi...Dan Fyi kartu putih yang elu kasi gua jadul masih ada loh, kmr baru ketemu :)

Monday, January 10, 2005

Prickly

I feel prickly like a cactus
So, please approach with caution
I'll snarl like a mad dog
and you should be glad i don't bite
Its all because i feel frustrated
of me, of everything
Wish i could be like free animals, instead
I am like domesticated animals,
Like my chickens, like my dog
No wonder they barks, and pecks
Being caged really makes you feel prickly,
So please understand if i snarl like my pets

Thursday, January 06, 2005

All's in a worker's day

B: Have you employee your time good?

M: Err, yes Sir
(friendster, blogger, tabloids, friendster, blogger, tabloids)

B: So, what’s ur typical day?

M: Uhm, well…uhmm well let see….
(At this stage I’m thinking hard, and all I can think of are, updating my blogger, visiting my friends blogger, checking my friendster, reading jokes, reading tabloids I’ve obtained furing lunch time, nothing decent to tell my boss, Arggh. Sweat begins to trickle on my back, double Arghhh)

B: Yes?
(At this stage he’s looking at me intently , daunting and beginning to become impatient)

M: Well, I check on the reports that I got…
(Suppose reading comments on my blog, my email, my friendster, can be counted as reading report)
Then, I’ve been working on project A with B
(Which I’ve start doing 10 minutes before I got called to see my boss)
Also, I’ve updated the reports and everythings
(Surely updating my blog, can be counted on)

B: Okay, that’s good, but…blah blah blah… I want you to log your activity for a week. Then analyse it, see
wheter you’ve employ your time efficiently…


Me:
(Imagining what the log will be like:
9.00 arrive (an hour late)
9.00-9.45 settling in, getting water, chatting
9.45-11.00 reading everyone’s blog, friendster, update my blog
11.00- 11.30 calling my friends
11.30-13.00 lunch plus shopping (half an hour earlier than the slotted time)
13.00-14.00 fighting off my sleepiness, and dozing
14.00-14.30 getting ready to actually get some work done
14.30-15.00 Getting rally confused how to get the mounting works done
15.00-16.00 Becoming dangerously close to panic due to amount of work have been delayed
16.00 Giving up work, promise self to do it first thing tomorrow morning)
Okay, Sir,. I’ll report back first thing next week
(And I say this with full confident, like a true pathological liar)

Please Note: This piece is purely fictional and does not reflect the true work conduct of the writer, who by the way writes this after hour.

Another Pesonal Piece

I’ve just read a wonderfully mellow piece from a friend’s blog. Beinng the narcist person that I am, it had got me thinking about my own little family, (err not so little anymore, with the additional little peeps). I lost my dad when I was real young, too young to understand any of it in fact. At that time there was only me, my mum, and my brother. Two year pass or so my mum got married again. The person she marry was in fact her brother in law, my uncle. A year before she lost my dad, she lost his sister to Leukimia leaving behind her husband and three children. In many more ways it was a merge of two not intact families, than a romantic wedding (or at least that’s what we dechiper). I must say it was probably the most noble action I’ve encountered. And rest assure they will be loved by all parties involved for their noble gesture.
The pain that my mum experience, losing her husband just after 3 years of marriage, was unimaginable for me. The worry that she felt having two little children beaming happily not realising that they were a step away from being orphan was equally beyond my comprehension. Parallely the pain that my father experience when he lost his wife during the heights of his career, leaving two teenage girls and a young boy was also beyond me.
The family that I have now, is not the typical happy family. Parents madly in love with each other, kids sick with their parents lovesick behaviour but stragely envy them, an ageing dog sleeping soundly on the porch. No siree, my family is far from it. My family is, I suppose like a shirt, where several pieces got stitched to form a shirt. A stitched family, the only family I ever want.

Monday, January 03, 2005

Ponakanku Sayang

Ponakan gua nangis nangis gara gara disuru tidur siang
Padahal gua tiap hari mengimpikan bisa tidur siang

Ponakan gua ribut pengen naik bajaj, busway, delman, segala macam kendaraan umum
Padahal gua tidak sabar menunggu hari dimana gua tidak usah naik kendaraan umum lagi

Ponakan gua jejeritan gara gara di suapin makan
Padahal gua pingin banget di suru suru makan, apalagi disuapin

Ponakan gua ngamuk gara gara iri liat kakaknya sekolah
Padahal gua selalu merindukan hari hari tanpa sekolah, hari tanpa kerja sih

Duh, unyil unyil sayang kalian engga sadar betapa beruntungnya kalian